Newstikers

Newstikers » Selamat datang kawan di blog yang insya alloh resmi, ya!! hehe.. Jangan sungkan untuk berkomentar dan ngobrol bareng disini..

Jumat, 27 April 2012

PERNIKAHAN ADAT SUNDA

BAB I
PENDAHULUAN
  1. A.    Latar Belakang
Pernikahan adat yang ada di Indonesia sangatlah beragam, beberapa adat pernikahan tradisional besar yang sering di gunakan untuk mensakralkan acara pernikahan adalah pernikahan adat jawa, pernikahan adat minangkabau, pernikahan adat betawi, pernikahan adat tionghoa, pernikahan adat melayu, pernikahan adat batak, pernikahan modern begitu juga pernikahan adat sunda, dan masih banyak adat pernikahan lainnya.
Seperti kita tahu bahwa Indonesia memiliki beragam suku dan kebudayaan, jadi tidak heran apabila kita sering melihat upacara-upacara adat yang sangat unik. Upacara pernikahan adalah termasuk upacara adat yang harus kita jaga, karena dari situlah akan tercermin jati diri kita, bersatunya sebuah keluarga bisa mencerminkan bersatunya sebuah negara. Mungkin tidak menjadi masalah apabila
anda memilih atau menikah dengan orang yang satu suku, namun apa jadinya bila anda menikah dengan orang yang berbeda suku, beda adat dan kebiasaan, pasti anda harus mempunyai bekal pengetahuan tentang seluk beluk, dan tatacara pernikahannya.



BAB II
PEMBAHASAN
  1. A.    Upacara Adat Sunda Sebelum Akad Pernikahan
Pernikahan memang satu upacara sakral yang diharapkan sekali seumur hidup. Bentuk pernikahan banyak sekali bentuknya dari yang paling simple dan sedikit ribet karena menggunakan upacara adat.
Kekayaan budaya Tatar Sunda tampil lewat upacara pernikahan adatnya yang unik dan kaya makna. Prosesi pernikahan diwarnai humor yang menyegarkan dan mengakrabkan, tapi tak menghilangkan nuansa sakral dan khidmat. Berikut rangkaian tata cara pernikahan adat Sunda sebagai panduan bila Anda ingin menikah secara adat ini :
1)      Nendeun Omong (Menyimpan Ucapan)
Nendeun omong (menyimpan ucapan) yaitu pembicaraan orang tua atau utusan pihak pria yang berminat mempersunting seorang gadis. Tahap pertama dalam prosesi pernikahan adat Sunda ini memiliki arti pembicaraan orang tua kedua pihak mempelai atau siapapun yang dipercaya menjadi utusan pihak sang pria yang memiliki rencana mempersunting sang gadis. “Neundeun omong” (dalam bahasa Indonesia berarti menaruh perkataan atau menyimpan janji) ini merupakan pembicaraan di mana orangtua sang pria menginginkan sang gadis untuk menjadi menantunya. Dibutuhkan kepandaian berbicara dan berbahasa, serta tentunya keramahan.

2)      Narosan (ngalamar / nyeureuhan )
Tahap ini hampir mirip dengan tahap pertama, akan tetapi dalam lamaran ini, orangtua pihak pria beserta keluarga dekat  mendatangi calon besannya membawa makanan atau bingiksan dan membawa “lamareun” sebagai simbol pengikat. Simbol pengikat ini bisa berupa uang, seperangkat pakaian, atau cincin. Selanjutnya, kedua belah pihak mulai membicarakan waktu dan hari yang baik untuk pernikahan.
3)      Nyandakeun atau Seserahan
Selanjutnya dilakukan seserahan yang dilakukan 3-7 hari sebelum pernikahan. Dalam tahapan ini calon pengantin pria membawa uang, pakaian, perabot rumah tangga, makanan, dan lain-lain.
4)      Ngecagkeun  Aisan
Calon pengantin wanita keluar dari kamar dan secara simbolis digendong oleh sang ibu, sementara ayah calon pengantin wanita berjalan di depan sambil membawa lilin menuju tempat sungkeman. Upacara ini dilaksanakan sehari sebelum resepsi pernikahan, sebagai simbol lepasnya tanggung jawab orang tua calon pengantin.
Proferty yang digunakan pada upcara ngaras diantaranya yaitu :
  1. Palika atau pelita atau menggunakan lilin yang berjumlah tujuh buah. Hal ini mengandung makna yaitu rukun iman dan jumlah hari dalam seminggu.
  2. Kain putih, yang mengandung makna niat suci.
  3. Bunga tujuh rupa, mengandung makna bahwa perilaku kita, selama tujuh hari dalam  seminggu harus wangi yang artinya baik.
  4. Bunga hanjuang, mengandung makna bahawa kedua calon pengantin akan memasuki alam baru yaitu alam berumah tangga.
Adapun langkah-langkah pelaksanaan upacara ngaras adalah sebagai berikut :
  1. Orang tua calon pengantin perempuan keluar dari kamar  sambil membawa lilin/ palika  yang sudah menyala,
  2. Kemudian di belakangnya diikuti oleh calon pengantin peremupan sambil dililit (diais) oleh ibunya.
  3. Setelah sampai di tengah rumah kemudian kedua orang tua calon pengantin perempuan duduk dikursi yang telah dipersiapkan.
  4. Untuk menambah khidmatnya suasana  biasanya sambil diiring alunan kecapi suling dalam lagu ayun ambing.
5)      Ngaras
Upacara ngaras artinya membasuh kedua telapak kaki orang tua sebagai tanda berbakti kepada orang tua. Pelaksanaan upacara ini dilaksanakan setelah upacara ngecagkeun aisan.
  1. Calon pengantin permpuan bersujud dipangkuan orang tuanya  sambil berkata: “ Ema, Bapa , disuhunkeun wening galihna, jembar manah ti salira. Kersa ngahapunten kana sugrining kalelepatan sim abdi. Rehing dina dinten enjing pisan sim abdi seja nohonan sunah rosul. Hapunten Ema, hapunten Bapa hibar pangdu’a ti salira “
  2. Orang tua calon perempuan menjawab sambil mengelus kepala anaknya : “ Anaking, ! Titipan Gusti Yang Widi ! Ulah salempang hariwang, hidep sieun teu tinemu bagja ti Ema sareng ti Bapa mah, pidu’a sareng pangampura, dadas keur hidep sorangan, geulis !
  3. Selanjutnya kedua orang tua calon pengantin perempuan membawa anaknya ke    tempat siraman untuk melaksanakan upacara siraman.
6)      Siraman
Upacara siraman, artinya memandikan calon pengantin perempuan dengan air yang telah dicampur dengan air bunga tujuh rupa (kembang setaman). Maksud dari upacara siraman adalah sebagai simbol bahwa untuk menuju sebuah mahligai rumah tangga yang suci harus pula diawali dengan tubuh serta niat yang suci pula.
Adapun pelaksanaan upacara siraman adalah sebagai berikut:
  1. Sesudahnya membacakan do’a, orang tua laki-laki dari calon pengantin permpuan langsung menyiramkan air dimulai dari atas kepala hingga ujung kakinya. Setelah itu diteruskan oleh ibunya dengan pelaksanaan sama seprti tadi. Dan setelah itu dilanjutkan oleh para kerabat dengan jumlah harus tujuh orang dan harus sudah menikah.
  2. Pada siraman terakhir biasanya dilakukan dengan melafalkan jangjawokan (mantra-mantara ).
7)      Ngerik
Mengerik bulu-bulu yang berada di sekitar wajah supaya hasil riasannya baik. setelah melaksanakan upacara siraman rangkaian upacara selanjutnya yaitu, ngerik atau ngeningan.
Kata ngeuyeuk berasal dari kata ngaheuyeuk yang berarti mengurus, mengolah. Yaitu, mengurus lembaran-lembaran daun sirih disusun kedua lembar perut daun sirih (beuteung seureuh) disatukan selanjutnya diikat menggunakan tali dari benang (kanteh). Acara selanjutnya yaitu berlomba membuat lukun (gulungan daun sirih yang tekah dibubuhi apu dan gambir).
Acara nyeuyeuk seureuh biasanya dihadiri oleh kedua calon pengantin beserta dengan keluarganya,  yang dilaksanakan pada malam hari sebelum acara akad nikah.
Tata cara melaksanakan upacara ngeuyeuk seureuh adalah sebagai berikut:
  1. Alat dan bahan ( perlengkapan ) ngeuyeuk suereuh ditaruh diatas selembar tikar pandan, kemudian ditutup memakai kain putih (kain kapan)
  2. Pemandu acara kemudian memanggil orang-orang yang akan melaksanakan (membantu) upacara ngeuyeuk seureuh yang berjumlah tujuh orang. Angka tujuh dianggap keramat.
  3. Yang menyaksikan upacara ngeuyeuk seureuh biasanya kebanyakan kaum perempuan. Untuk membedakan antara pelaksana upacara dengan penonton biasanya menggunakan benang putih.
  4. Anak gadis atau jejaka dilarang menyaksikan upacara ini, karena dipercaya akan sulit mendapatkan jodoh (jomblo).
    1. B.     Upacara Adat Sunda Akad Pernikahan
Pada hari yang telah ditetepkan dan disepakati oleh kedua keluarga calon pengantin. Rombongan keluarga calon pengantin pria datang ke kediaman  calon pengantin perempuan. Selain membawa untuk mas kawin biasanya juga membawa barang-barang seperti peralatan dapur, perabotan kamar tidur, kayu bakar, gentong (gerabah untuk menyimpan beras).
  1. C.    Upacara Adat Sunda Setelah Akad Pernikahan
Setelah melaksanakan akad nikah kedua mmempelai masih harus melakukan serangkaian upacara adat yang disebut bantayan. Orang yang memimpin upacara ini harus orang yang mempunyai watak humor. Adapun acara adat yang dilakukan pada upacara bantayan adalah sebagai berikut :
1)      Sawer pengantin
Kata sawer berasal dari kata panyaweran , yang dalam bahasa Sunda berarti tempat jatuhnya air dari atap rumah atau ujung genting bagian bawah. Mungkin kata sawer ini diambil dari tempat berlangsungnya upacara adat tersebut yaitu panyaweran.
Bahan-bahan yang diperlukan dan digunakan  dalam  upacara sawer ini tidaklah lepas dari symbol dan maksud yang hendak disampaikan lepada penganti baru ini, seperti :
a.       beras yang mengandung symbol kemakmuran. Maksudnya mudah-mudah setelah berumah tangga pengantin bisa hidup makmur
b.      uang recehan mengandung symbol kemakmuran maksudnya apabila kita mendapatkan kemakmuran kita harus ikhlas berbagi dengan Fakir dan yatim
c.       kembang gula, artinya mudah-mudah  dalam melaksanakan rumah tangga mendapatkan manisnya hidup berumah tangga.
d.      kunyit, sebagai symbol kejayaan mudah-mudahan dalam hidup berumah tangga bisa meraih kejayaan.
e.       Kemudian semua bahan dan kelengkapan itu dilemparkan, artinya kita harus bersifat dermawan.
2)      Nincak endog (menginjak telur)
Mengandung symbol keperawanan dan benih  artinya agar pengantin perempuan bisa memberikan keturunan yang baik.
3)      Meuleum harupat (membakar lidi )
Mengandung maksud bahwa dalam memecahkan suatu permasalahan jangan   punya sifat seperti harupat yang mudah patah tetapi harus dengan pikiran yang bijaksana. Pelaksanaannya yaitu kedua mempelai memegang harupat saling berhadapan dan langsung mematahkannya.
4)      Buka pintu
Diawali mengetuk pintu tiga kali. Diadakan tanya jawab dengan pantun bersahutan dari dalam dan luar pintu rumah. Setelah kalimat syahadat dibacakan, pintu dibuka. Pengantin masuk menuju pelaminan..Dialog pengantin perempuan dengan pengantin laki-laki seperti berikut ini :
5)      Huap lingkung
Setelah buka pintu dilaksanakan kedua mempelai dipertemukan, dan dibawa ke kamar pengantin untuk melaksanakan upacara huap lingkung.Perlengkapan yang harus disediakan seperti : sepasang merpati, bekakak ayam,nasi kuning, dll.
6)      Melepaskan sepasang burung merpat
Upacara ini mengandung maksud bahwa kedua mempelai akan mengarungi  dunia baru yaitu dunia rumah tangga.
7)      Numbas
Upacara numbas biasa dilaksanakan satu minggu setelah akad nikah. Upacara numbas mengandung maksud untuk memberi tahu kepada keluarga dan tetangga bahwa pengantin perempuan “tidak mengecewakan “ pengantin laki-laki. Upacara numbas dilakukan dengan cara membagi-bagikan nasi kuning.
BAB III
PENUTUP
  1. A.    Kesimpulan
Seperti kita tahu bahwa Indonesia memiliki beragam suku dan kebudayaan, jadi tidak heran apabila kita sering melihat upacara-upacara adat yang sangat unik. Upacara pernikahan adalah termasuk upacara adat yang harus kita jaga, karena dari situlah akan tercermin jati diri kita.
Pernikahan memang satu upacara sakral yang diharapkan sekali seumur hidup. Bentuk pernikahan banyak sekali bentuknya dari yang paling simple dan sedikit ribet karena menggunakan upacara adat. Kekayaan budaya Tatar Sunda tampil lewat upacara pernikahan adatnya yang unik dan kaya makna. Prosesi pernikahan diwarnai humor yang menyegarkan dan mengakrabkan, tapi tak menghilangkan nuansa sakral dan khidmat.
DAFTAR PUSTAKA
http://saungdedimlyd.web.id/artikel/sosial-budaya-ekonomi/113-upacara-nikah-adat-sunda.html Rabu, 04 April 2012 Pkl. 14.20
http://weddingadatsunda.blogspot.com/2007_12_01_archive.html Rabu, 04 April 2012 Pkl. 15.15
http://www.ziddu.com/download/8026178/UpacaraPernikahanAdatSunda.zip.html Rabu, 04 April 2012 Pkl. 14.30 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar